Blog EntrySetitik Harapan di Hutan Warisan Raja KutaiApr 18, '08 8:45 AM
for everyone
Sinar terik yang memancar di atas kawasan Taman Nasional kutai tek membuat lelah untuk menantang hari yang semakin sulit. Keadaan hutan yang semakin rusak dan kondisi harga pangan dan sandang yang selalu melonjak naik membuat semua orang harus “survive” untuk hidup. Wajah tak legam dimakan panas mulai mengendarai sepeda motor bebek menuju ke Sengata. Dengan jalanan rusak dan berlobang tak membuat surut semangat yang masih membara diantara raut wajah yang tua. Hampir 300 kg gula aren dari masing – masing anggota kelompok Nyiur Melambai dibawa dan dipasarkan di Sengata Kutai Timur.

        Gula aren merupakan produk utama dari kelompok Nyiur melambai yang tinggal di Desa Kandolo Kecamatan Teluk Pandan 40 Km dari Sengata Kabupaten Kutai Timur dan 20 Km dari Kota Bontang, tepatnya didalam kawasan Taman Nasional Kutai. Hasil hutan bukan kayu inilah yang menopang kehidupan 8 anggota termasuk bapak Abdul Azis. saat ini kelompok Nyiur melambai sudah memproduksi hampir 1 ton gula aren perbulan, permintaan yang cukup banyak di sengata menyebabkan pemasaran hanya Sengata.

     Tak banyak mimpi yang ingin dirajuk, hanya menginginkan untuk hidup sejahtera dan dapat menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Keinginan inilah yang membuat kelompok nyiur melambai merangkak untuk maju. Di waktu yang lalu kendala penjualan gula aren sangatlah sulit. Banyak gula aren harus rusak dan mencair karena sudah terlalu lama, sehingga rupiah yang diharapkan mencair dengan mencairnya gula aren, karena faktor distribusi dan kurang tahunya penjual tentang gula aren yang ada di Kandolo. Standarisasi kesehatan dalam gula aren pun dipikirkan guna kenyamanan konsumen dalam menikmati gula aren. Dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kutai Timur dan Yayasan Binakelola Lingkungan ditahun 2006 serta dukungan dari MFP sehingga perijinan ini keluar.

 

 

     Banyak pemuda yang beranggapan bahwa pekerjaan gula are merupakan pekerjaan orang tua saja, menyebabkan pekerjaan ini tidak dipandang “seksi” dalam mendapatkan rupiah yang mencukupi, tetapi dengan mudahnya pemasaran yang dirasakan saat ini, pekerjaan ini tidaklah dipandang sebelah mata. Pekerjaan dalam mengolah aren haruslah dengan ketelitian dan ketekunan. Mimpi untuk sejahtera akan terwujud dengan hutan yang lestari guna mendukung keberadaan pohon – pohon aren.

       Lain halnya dengan kelompok Pangkang Lestari yang berada di Teluk Lombok, desa Sangkima Kecamatan Sengata Selatan Kutai Timur, potensi hutan bakau yang melimpah berjajar rapi diantara pantai yang membujur. Warna hijau begitu apik seperti ditata dengan tangan – tangan yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Keanekaragaman hayati yang bergitu tinggi membuat kita berdecak kagum akan limpahan rahmat yang terkandung didalamnya.

      Desa kecil yang mereka tinggali merupakan desa kecil yang berpenghuni mayoritas pendatang dari Sulawesi Barat tepatnya Mamuju. Pola hidup melaut sudah mendarah daging dalam darah mereka. Di tahun 80an penduduk Teluk Lombok mulanya hidup ditepi pantai, tetapi karena abrasi air laut, sehingga pasir pantai terkikis sampai di rumah penduduk. Berawal dari sinilah penduduk ramai – ramai untuk pindah lebi dalam lagi, hingga mencapai daratan di belakang hutan bakau. Pola hidup melaut seperti mencari ikan, kerang dan teripang merupakan penopang ekonomi tiap penduduk.

     Seiring dengan akses yang mudah dan lebih pahamnya penduduk tentang informasi. Pengembangan pola mata pencarianpun mulai bergeser dan mulai dinamis dengan kondisi alam di Teluk Lombok. selain melaut pengembangan lain mulai bergerak seperti pembibitan bakau dan Tambak kepiting bakau.

    Pembibitan pohon bakau sudah berjalan 2 tahun terakhir ini dengan menggunakan pola tradisional di masyarakat sedangkan tambak kepiting bakau sudah berjalan dengan dukungan Mitra Taman Nasional Kutai. Awalnya usaha kepiting bakau dimulai dengan menggunakan demplot, karena terjadi hilangnya kepiting dalam demplot menyebabkan budidaya kepiting dialihkan lagi degan menggunakan system tambak. Lahan tambak yang berukuran 30 m x 40 m dan 4 sekat penggemukan dengan ukuran 10 m x 20 m berada di antara hutan bakau yang asri. saat ini bibit kepiting bakau yang akan digemukkan dan dibiakkan mencapai 90 kg.

     kearifan pada alam merupakan manifestasi tertinggi dalam bentuk mensyukuri nikmat Tuhan. Alam bukanlah obyek yang harus dikelola dengan paksa tetapi alam adalah obyek yang harus diperlakukan mesra. Kerusakan hutan di Taman Nasional Kutai bukanlah hal untuk dikutuk ataupun mencari kambing hitam. tetapi marilah kita mengambil peran dalam mengelola hutan.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help